Indahnya Silaturrahmi PWM Jateng Drs.H.Tafsir, M.Ag - PCM Gerokgak Bali

PCMgerokgak.com - PCM Gerokgak semangatnya bagaikan berada disamping Kauman Yogjakarta, dengan didampingi oleh Ali Susanto - Ketua PDM Buleleng, rombongan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM Jawa Tengah)  Drs. H.Tafsir, M.Ag, beserta Dr Aldila S. Arfah dan Subur Yuswanto, S.Kp (MPKU PWM Jateng). Alhamdulilah dapat meluangkan waktunya untuk berkunjung ke Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM Gerokgak BALI) untuk bersilaturrahmi melihat situasi dan kondisi warga Muhammadiyah di Gerokgak dan melihat langsung perkembangan pembangunan Gedung Muhammadiyah PCM Gerokgak.Sabtu, 17 Februari 2018


Ramah tamah yang penuh dengan suasana kekeluargaan betapa bahagianya kami anggota dan pengurus PCM Gerokgak, menyambut kedatangan Beliau yang telah menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke Gd.Muhammadiyah PCM Gerokgak.

berbincang tentang sejarah dan perkembangan berdirinya PCM Gerokgak hingga saat ini yang bisa mendirikan Bangunan Gedung lantai 3 yang cukup luar biasa yang tahap penyelesainnya baru sampai Lantai 1, serta masih sangat banyak membutuhkan bantuan dana untuk melanjutkan ketahap berikutnya, yang rencananya nanti akan digunakan untuk segala aktifitas kegiatan muhammadiyah, kegiataan keagamaan dan ataupun kegiatan sosial lainnya oleh warga sekitar.

Kesan yang mendalam disampaikan oleh Ustad Tafsir, mengatakan "sebagai minoritas di tengah-tengah hegemoni mayoritas Hindu dan mungkin juga warga Nahdiyin, PCM Gerokgak sangat luar biasa bisa tetap eksis dinamis penuh geliat membangun ummat dan bangsa dalam kemasan Islam berkemajuan, teruslah semangat dan teruslah berjuang"


Kesan dan harapan ini juga disampaikan oleh Subur Yuswanto dimana beliau menyampaikan, Bahwa "Pergerakan Muhammadiyah khususnya PCM Gerokgak di daerah minoritas yang sangat luar biasa, yang sangat jauh dari akses kekuatan Muhammadiyah, akan tetapi semangatnya bagaikan berada disamping Kauman Yogjakarta."
"PCM Gerokgak Bali, gerakan pencerahannya menyesuaikan kultur masyarakat dengan bidang ekonomi dan dakwah yang menjadi titik gerakannya. Masyarakat pesisir Bali, di sepanjang garis pantai dengan budidaya perikanan tambak bandeng menjadi andalan dalam menyampaikan pesan dakwah yang nantinya dengan adanya Gd. Muhammadiyah PCM Gerokgak ini bisa dijadikan Embrio cikal bakal berdirinya Baitul Tamwil Muhammdiyah (BTM) ataupun KospinMU yang bisa menjadi pusat energi untuk mengembirakan dakwah kedepannya"
Salam Muhammadiyah Berkemajuan
FASTABIQUL KHAIRAT
Read More

KOKAM Buleleng Persiapkan Kedatangan DAHLAN RAIS di PCM Gerokgak

PCMGerokgak.com - Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM Buleleng Bali) mengerahkan semua anggota dalam kesatuan KOKAM Buleleng dalam persiapan kedatangan Drs.H.A.Dahlan Rais,M.Hum di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM Gerokgak) pada Jum'at 16/02/2018.

pcm gerokgak


PDPM/KOKAM Buleleng yang di ketuai oleh Soleh Abidin bersama ketua PDM Buleleng Bapak. Ali Susanto, mengerahkan semua anggota KOKAM Buleleng untuk memasang umbul-umbul dan bendera - bendera Muhammadiyah dan Ortom sepanjang jalan yang menuju lokasi acara di sekitaran Gedung Muhammadiyah PCM Gerokgak, dengan harapan  untuk lebih memeriahkan dan mengembirakan acara Silaturrahmi dn Tabligh Akbar yang rencananya di hadiri oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yaitu Drs.H.A.Dahlan Rais,M.Hum pada Ahad, 18 Februari 2018.

=>> Photo KOKAM Buleleng Persiapkan Kedatangan DAHLAN RAIS di PCM Gerokgak




Read More

Photo KOKAM Buleleng Persiapan Kedatangan DAHLAN RAIS - PCM Gerokgak

Read More

AGAMA JADI TERSANGKA

muhammadiyah bali

Oleh: Haedar Nashir

Ada apa dengan agama? Urusan radikalisme, terorisme, intoleransi, dan kekerasan banyak dikaitkan dengan agama dan umat beragama. Agama malah disebut produk impor layaknya barang dagangan.

Aura negatif keagamaan itu tidak jarang tertuju pada Islam. Ibnu Taimiyah secara ceroboh dimasukkan sebagai salah satu tokoh sumber paham radikalisme. Padahal, dialah yang menyatakan pemimpin non-Islam yang adil lebih baik ketimbang pemimpin muslim nan zalim. Pemikiran pembaruan ulama besar dari Syiria ini malah melampau zamannya.

Ironisnya, ada sebagian golongan agama membeli isu radikalisme itu tanpa sikap kritis. Dalil dan fatwa keagamaan tentang radikalisme pun serta-merta dikeluarkan. Padahal, ranah lain tak kurang bermasalah dan menjadi sumber masalah kalau kita angkat secara objektif ke ruang publik. Radikalisme itu milik siapa saja tanpa pandang bulu. Sejarah mengenal radikalisme petani sebagai gerakan perlawanan.

Tanyakan pada Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, kenapa dan atas nama apa mereka menyandera dan berbuat teror terhadap orang-orang tak bersalah. Kelompok ini pun tidak disebut teroris dan radikalis. Tentu selalu ada alasan untuk pembenaran, tetapi tampak sekali bias parameter yang dipakai ketika mengaitkannya dengan agama.

Agama dan umat beragama seolah jadi terdakwa. Agama dianggap sumber radikalisme dan benih konflik yang membelah warga bangsa. Hingga di negeri ini mulai tumbuh pandangan kuat, janganlah membawa-bawa agama di ruang publik. Simpanlah agama di ranah domestik.

Sementara ranah politik, etnik, kedaerah, dan segala atribut lain ketika bermasalah dianggap biasa dan bukan sumber kegaduhan. Padahal, karena soal politik rakyat terbelah, gedung dibakar, konflik mengeras, dan kehidupan gaduh. Orang mengelompok dengan fanatik dalam referensi etnik atau kedaerahan tak disebut eksklusif dan intoleran. Semuanya keliru, tetapi tidak membuahkan stigma dengan aura buruk-muka!

Pandangan Sekular

Kita umat beragama sungguh menolak segala bentuk radikalisme atas nama apapun, di manapun, dan kapanpun. Lebih-lebih yang memproduksi kekerasan dan segala bentuk tindakan fasad fil-Ardi. Sejengkal apapun tak ada ruang untuk perbuatan merusak di muka bumi, Hatta atas nama agama, kitab suci, nabi, dan Tuhan.

Kita akui juga ada elemen umat beragama karena bias-pemahaman dan bias-perilaku keagamaan menjadikan agama pendorong tindakan-tindakan ekstrem seperti sikap radikal, intoleran, kebencian, aksi sweeping, dan sejenisnya. Kita juga paham atas sorotan tajam manakala agama dipakai sebagai pendorong hal-hal yang beraura garang dan permusuhan karena secara normatif dan profetik agama dan umat beragama memang membawa misi Ilahi yang suci untuk membangun kehidupan serba bermoral dan rahmat bagi semesta alam.

Jadi, tidak terlalu keliru kalau agama dan umat beragama disoroti tajam ketika masuk pada ranah yang dikategorikan radikal dan sebagainya. Umat beragama tentu penting untuk bermuhasabah diri agar tidak terjebak pada keberagamaan yang bermasalah seperti itu.

Dengan demikian fungsi agama dan peran pemeluk agama tetap kuat sebagai penyebar misi damai, toleran, inklusif, dan segala kebajikan yang utama. Jadikan agama sebagai rujukan nilai utama kebajikan peradaban di negeri tercinta ini, bukan sebaliknya sebagai pemicu perilaku keras dan konflik atasannya Tuhan.

Namun, penting juga pandangan yang adil dan objektif dalam melihat posisi agama dan umat beragama di negeri ini, yang nilai positifnya jauh lebih luas dan menjadi bingkai moral utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu arus utama umat beragama di negeri ini pun sungguh moderat, damai, toleran, dan berkemajuan. Agama dan umat beragama harus dilihat secara komprehensif, tidak parsial dengan nada sarat dakwaan. Tidak perlu juga dipolitisisasi secara ekstrem, seolah agama dan umat beragama sebagai sumber masalah.

Tampaknya, terdapat kecenderungan yang menguat di sebagian elite, pakar, dan warga bangsa tentang alam pikiran sekuler yang bersenyawa dengan proses demokratisasi dan hak asasi manusia yang liberal sebagaimana pandangan hidup masyarakat Barat yang berbasis pada humanisme-sekuler. Keputusan Mahkamah Konstitusi tentang agama dan kepercayaan yang kontroversial dapat dibaca dalam aura alam pikir humanisme-sekuler itu. Pandangan yang demikian tentu tidak cocok dengan jati diri bangsa Indonesia yang beragama kuat dan berideologi Pancasila.

Peter L Berger pernah menengarai bahwa masyarakat moderen tidak begitu hirau dengan persoalan-persoalan metafisik, tentang hakikat kehidupan, dari mana manusia berasal dan untuk apa tujuan hidup di dunia, serta makna-makna kehidupan lainnya. Hal itu karena proses rasionalisasi atau lebih tepatnya sekularisasi begitu kuat, sehingga hal-hal yang mendasar seperti itu seolah wilayah abstrak dan tidak empirik.

Padahal kenyataan masyarakat modern justru memerlukan dimensi yang melampaui dunia rasional itu, yang hanya dapat ditemukan dalam agama. Agama, tulis Berger, merupakan kanopi suci (the sacred canopy) yang dapat membebaskan manusia dari chaos atau segala bentuk kekacauan hidup. Hatta dalam masyarakat dan dunia yang sekuler, menurut Bryan Wilson, secara sosiologis agama masih tetap diperlukan dalam memberi makna luhur bagi kehidupan umat manusia.

Maka menjadi ironis manakala di Indonesia yang penduduknya beragama dan ber-Pancasila, agama dipandang sebagai sumber masalah atau malah menjadi terdakwa untuk segala hal buruk seperti radikalisme, terorisme, intoleran, dan kekerasan. Lebih-lebih karena prinsip demokrasi dan hak asasi manusia yang serbaliberal, agama mulai dimarjinalkan dan malah harus disamasebangunkan dengan bentuk-bentuk kepercayaan tertentu yang sama sekali berbeda dari agama. Agama dianggap skrup kecil dari kehidupan masyarakat Indonesia.


Fungsi Agama

Benarkah agama sumber masalah? Agama merupakan sistem keyakinan universal yang berdasarkan wahyu Illahi membimbing manusia menuju jalan hidup yang benar untuk meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Agama, menurut Arseln van Feuerbach merupakan kebutuhan hidup manusia yang ideal. Ekspresi orang beragama dan bertuhan dapat beragam tetapi manusia sungguh tidak dapat hidup tanpa Tuhan dan tanpa agama, meski ada manusia yang ateis dan agnostik.

Agama mengajarkan manusia hidup saleh untuk diri sendiri, sesama, dan lingkungannya sehingga kehadiran agama justru menjadi rahmatan lil-‘alamin. Tidak ada agama apapun yang mengajarkan keburukan, semuanya berisi kebajikan yang utama. Agama sebagai refleksi iman tidak hanya terbukti dalam ucapan keyakinan dan iman saja, tetapi agama juga merefleksikan sejauh mana iman itu diungkapkan dalam kehidupan dunia ini (Mukti Ali, 1982).

Agama menurut tokoh Perbandingan Agama dan mantan Menteri Agama itu berfungsi sebagai faktor transendensi, sublimasi, profetik, liberasi, humanisasi, dan kritik atas kehidupan manusia. Dengan agama manusia menjadi insan relijius, shaleh, welas asih, sabar, peduli, mau berbagi, rendah hati, dan berbuat serba kebajikan yang utama. Agama mengajarkan manusia menjadi hamba Allah yang beriman sekaligus beramal shaleh bagi kebaikan semesta. Rasul bahkan diutus untuk menyempurnakan akhlak utama manusia serta menyebar misi rahmatan lil-‘alamin untuk kemajuan peradaban dunia.

Umat Islam selaku mayoritas di negeri ini selain menjadikan agamanya sebagai pedoman kehidupan yang utama dalam keberagamaan, pada saat yang sama menjadikan Islam berfungsi bagi kehidupan berbangsa. Apalah jadinya bangsa ini tanpa Islam dan umat Islam, bersama dengan agama dan pemeluk agama lain. Setidaknya bangsa Indonesia menjadi relijius dan berkeadaban, sesuatu yang mendasar bagi kehidupan suatu bangsa. Bacalah secara jernih dan objektif pengaruh positif agama dalam kehidupan bangsa Indonesia agar tidak terjebak pada stigma atau pandangan negatif dan menjadikannya seolah terdakwa atas hal-hal buruk di negeri ini.

Dalam konteks kesatuan dan persatuan nasional, peranan umat Islam di negeri ini sangatlah besar. Menurut antropolog kenamaan Koentjaraningrat, Islam merupakan kekuatan integrasi nasional dalam pembentukan kebudayaan Indonesia. Menurut George Kahin (1995), salah satu faktor terpenting yang mendukung pertumbuhan suatu nasionalisme terpadu di Indonesia adalah tingginya derajat homogenitas agama yakni lebih 90 persen penduduknya beragama Islam. Agama Islam bukan hanya hanya suatu ikatan biasa, ini benar-benar merupakan semacam simbol kelompok atau in-group untuk melawan penggangu asing dan penindas suatu agama yang berbeda.

Dalam pejuangan melawan penjajahan sungguh besar pengorbanan dan perjuangan umat Islam. Pengaruh, peranan, dan kiprah umat Islam sungguh tak terhitung. Kekuatan Islam seperti Muhammadiyah bahkan menjadikan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah. Nahdatul Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad. Segenap pergerakan Islam menggelorakan cinta Tanah Air sebagai bagian dari jihad fi-sabilillah. Semuanya berjuang untuk Indonesia yang dicintai dan dibelanya dengan sepenuh jiwa-raga dengan ruh agama!

(PCMgerokgak.com - Suaramuhammadiyah.id -Tulisan ini dimuat di Harian Republika pada Ahad, 26 November 2017)
Read More

Ukhuwah Bisa Hilang Hanya Karena Kepentingan Pribadi

PCMgerokgak.com – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar resepsi milad Muhammdiyah ke 105 di Auditorium PWM Sumsel pada Rabu (20/12). Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua PWM Sumsel Romli, serta jajaran pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se- Sumsel.

muhammadiyah bali

Dalam kesempatan itu Haedar berpesan agar milad Muhammadiyah ke 105 ini dapat dijadikan momentum muhasabah, tafakur, dan syiar dakwah.Selain itu, Haedar juga menyebutkan tiga hal yang dibutuhkan dalam mewujudkan cita-cita Muhammadiyah menciptakan Islam yang sebenar-benarnya.

*Pertama: kita harus berpondasi pada ketaqwaan. Karena taqwa merupakan puncak keunggulan hati dan iman seorang muslim.

“Memaafkan dan menahan amarah merupakan bagian ketaqwaan yang tidak mudah dilakukan,” ungkap Haedar.


*Kedua : jalinan ukhuwah dan solidaritas, masyarakat tidak akan menjadi kuat jika tidak ada Ikatan kolektif.

“Perbedaan menjadi landasan konflik yang kuat dan dengan ketaqwaan hal tersebut bisa diatasi, karena penyakit persatuan merupakan perpecahan yang didasari kepentingan. Ukhuwah bisa hilang karena kepentingan pribadi, dan ukhuwahnya hanya sebatas retorika,” ujar Haedar.


*Ketiga : membangun masyarakat utama yang unggul dan berkualitas. “Muhammadiyah bisa berkhoiruh ummah karena dalam diri masyarakatnya memmpunyai semangat berkhoiruh ummah,” ucap Haedar.

Selain itu, Haedar juga mengatakan bahwa umat Islam di Indonesia berjumlah 230 juta jiwa, serta memiliki  semangat dan spirit keislamanan yang semakin tinggi. Seharusnya hal ini dapat menjadi kekuatan besar bagi muslimdi Indonesia. Namun, kondisi yang ada saat ini ummat Islam masih terbelakang, baik dalam ekonomi maupun dalam pergolakan politik. Haedar menilai hal ini disebabkan oleh kebersamaan sesama muslim yang belum maksimal.

Sementara itu, Ketua PWM Sumsel Romli mengatakan semakin panjang umur sebuah organisasi maka akan semakin eksis organisasi tersebut, dan Muhammadiyah yang telah berusia 105 tahun eksistensinya terus berlanjut dengan berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan hajat umat, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, maupun sosial

“Momentum milad ini kita jadikan syiar menampakan perjuangan dakwah Muhammadiyah, sehingga dapat terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” pungkas Romli. (Muhammadiyah.or.id)
Read More

Din Syamsuddin Paparkan Prinsip Islam Wasathiyah Di Universitas Oxford

PCMgerokgak.com - Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Din Syamsuddin ditunjuk menjadi pembicara pada Diskusi Meja Bundar di Oxford Centre for Islamic Studies, Universitas Oxford, Inggris, pada Senin (18/12).

muhammadiyah bali

Dalam forum yang dihadiri sejumlah guru besar dan akademisi itu, Din berbicara mengenai "The Middle Path: Islam and Pancasila for the World Civilization". Dalam presentasinya, Din menjelaskan, walaupun berbeda kategori, yakni Islam sebagaiagama berdasarkan wahyu Tuhan, dan Pancasila sebagaiideologi buatan manusia, namun keduanya menekankan prinsip jalan tengah.

Hal itu terjadi karena Pancasila itu sendiri merupakan kristalisasi nilai-nilaiIslam dalam lingkup kehidupan bernegara. Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015 ini menjelaskan, sebagai agama wahyu terakhir, Islam membawa prinsip kesempurnaan, wahyu keseimbangan, dan kemaslahatan kemanusiaan.

“Prinsip jalan tengah Islam (wasathiyah), yang menjadikan umat Islam sebagaiumat tengahan (ummatan wasathan), menekankan prinsip keseimbangan, moderasi, toleransi, dan anti ekstrimitas,” ungkap Din.
Begitu pula Pancasila adalah ideologi jalan tengah. Posisi tengahan ini antara lain dijelaskan Din yaitu adanya nilai  keseimbangan antara orientasi ketuhanan dan kemanusiaan, dan keseimbangan pada orientasi kemanusiaan itu sendiri yaitu antara individualisme dan kolektifisme, yang bermuara pada pentingnya keadilan bagi semua.

Jalan tengah Pancasila, lebih lanjut menurut Din, menjelma pada paradigma politik yang menekankan permusyawatan untuk adanya kesepakatan, dan paradigma ekonomi yang tidak kapitalistik dan tidak sosialistik.

Menurut Din, wawasan jalan tengah ini sangat cocok untuk peradaban dunia yang rusak dewasa ini, lantaran terjebak ke dalam ekstrimisme.

“Sistem dunia selama ini sangat berwajah antroposentristik, yakni menjadikan manusia sebagaipusat kesadaran, dan kurang berwajah teosentristik yaitu menjadikan Tuhan sebagaipusat kesadaran,” tegas Din.

Sehingga akibatnya, peradaban manusia sepi dari nilai-nilai etika dan moral, yang pada giliran berikutnya menciptakan berbagai bentuk ketiadaan damai, seperti kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan hidup, dan berbagai bentuk kekerasan.

Maka, menurut Din, wawasan jalan tengah dapat menjadi solusi. “Perlu ada perubahan sistem dunia dan sistem-sistemturunannya ke arah yang berorientasi jalan tengah, yakni menekankan keseimbangan, keadilan, dan kemaslahatan kemanusiaan,” ungkap Din.

Dalam kaitan inilah, Din menawarkan prinsip jalan tengah dari Islam dan Pancasila sebagaiideologi baru dunia untuk adanya tatanan dunia baru yang berkemajuan, berkeadilan, dan berkeadaban.

Selama berada di Inggris, Din menyempatkan diri untuk beraudiensi dengan Sekjen Persekutuan Gereja-GerejaAnglican, Archbishop Josiah Atkins Idawu-Fearon di Keuskupan Cantenbury. Selain itu, sehari sebelumnya, sempat mengisi Sarasehan Mahasiswa Indonesia tentang Politik Ekonomi dan Deglobalisasi, danjugasilaturahimdengan masyarakat Indonesia di Inggris yang keduanya bertempat di KBRI London. (Muhammadiyah.or.id)
Read More