Bermuhasabah dengan Taubat dan Istighfar

pcm gerokgak



Hadirin yang dirahmati Allah!

Alhamdulillah Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita, sehingga pada siang ini kita dapat bermuwajahah di majlis yang berbahagia ini. Karenanya patut kita meningkatkan kesyukuran kita kepada-Nya. Shalawat serta salam tetap terlimpah kepada baginda Rasulullah saw, yang telah memberikan suri tauladan kepada kita, sehingga kita semakin mantap untuk menjalankan ajaran agamanya.

Hadirin yang berbahagia!

Salah satu nikmat terbesar yang akan membantu manusia untuk meniti tebing terjal kehidupan adalah taubat dan istighfar, kedua hal tersebut bukan dilakukan setiap tahun baru maupun bulan yang terakhir, namun taubat dan istighfar sangat baik, jika dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Hadirin yang berbahagia!

Dikisahkan dalam Tafsir al-Qurthubi, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada Al-Hasan al-Bashri tentang lamanya paceklik, maka beliau pun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah.” Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliau pun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah.” Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, al-Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah.”

Ar-Rabi’ bin Shabih salah satu murid beliau yang kebetulan hadir di situ bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar?” Maka al-Hasan al-Bashri pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh, maka dengan tersenyum beliau mengatakan: “Jawabanku itu bukan atas kemauanku sendiri tetapi firman Allah”, lalu Hasan al-Basri membacakan surat Nuh ayat 10-13.





“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (Qs Nuh: 10-13).


Hadirin yang berbahagia!

Di sisi lain Buya Hamka yang terkenal dengan tafsirnya Al-Azhar, memberi komentar tentang ayat ini, bahwa ampunan Tuhan adalah cahaya hidup, jika Tuhan memberi ampunan, segala pekerjaan menjadi mudah, dada pun lapang dan hidup akan terang benderang. Bagaimana dengan kita telah beristighfar atau banyak keluhan?


Hadirin yang berbahagia!

Terkadang  manusia memang benar-benar lupa, karena mereka sedang tertutup dan disibukkan mengumpulkan harta benda melalui berbagai macam aktivitas dalam kehidupan, sehingga apa yang dilakukan pada hakekatnya hanya berdasarkan keuntungan serta berhasilnya apa yang apa yang menjadi cita-cita. Namun jarang sekali berpikir sebab terjadinya bencana, banjir, kebakaran hutan yang menimbulkan kabut asap, tanah longsor, kemarau panjang dan sebagainya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:


“Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan,” (Qs Az Zumar: 53-54).


Hadirin yang berbahagia!

Istighfar selain meminta ampun juga sebagai permohonan agar kita tidak ditimpa malapetaka keburukan hidup, dan hal-hal yang membawa kita menderita akibat perbuatan dosa yang kita lakukan.
Istighfar merupakan kesadaran mengakui kesalahan, kekurangan dan merasa belum baik. Karena itu tidak heranlah, jika Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada kita agar membaca istighfar tiga kali.Bahkan beliau beristighfar sehari-semalam tidak kurang dari seratus kali. Berapa kali kita istighfar?
Istighfar tidak hanya dilakukan setelah shalat, pada akhir tahun atau mengawali tahun baru. Namun, seharusnya istighfar dilakukan setiap saat, agar kesadaran mengakui kesalahan akan terpatri dalam diri.
Hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR Abu Daud)



Khutbah Kedua


Hadirin yang berbahagia!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sendiri telah memberi tauladan kepada umatnya dengan beristighfar minimal sebanyak 70 kali dalam sehari semalam.
Istighfar menjadi suatu keniscayaan untuk dilakukan, sebab manusia sering lupa dan khilaf, sehingga dalam kehidupannya masih sering melakukan hal-hal yang semestinya dijauhi.

Marilah kita memanjatkan doa, semoga kita yang hadir di majelis ini, keluarga kita, serta teman seiman dan seagama selalu dapatkan pengampunan atas kekhilafan yang telah dilakukan. Amien.•



(Suaramuhammadiyah.id-Moh Helman Sueb, MA, Guru Sma Muhammadiyah 1 Babat-PCMgerokgak.com)


EmoticonEmoticon