Din Syamsuddin Paparkan Prinsip Islam Wasathiyah Di Universitas Oxford

PCMgerokgak.com - Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Din Syamsuddin ditunjuk menjadi pembicara pada Diskusi Meja Bundar di Oxford Centre for Islamic Studies, Universitas Oxford, Inggris, pada Senin (18/12).

muhammadiyah bali

Dalam forum yang dihadiri sejumlah guru besar dan akademisi itu, Din berbicara mengenai "The Middle Path: Islam and Pancasila for the World Civilization". Dalam presentasinya, Din menjelaskan, walaupun berbeda kategori, yakni Islam sebagaiagama berdasarkan wahyu Tuhan, dan Pancasila sebagaiideologi buatan manusia, namun keduanya menekankan prinsip jalan tengah.

Hal itu terjadi karena Pancasila itu sendiri merupakan kristalisasi nilai-nilaiIslam dalam lingkup kehidupan bernegara. Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015 ini menjelaskan, sebagai agama wahyu terakhir, Islam membawa prinsip kesempurnaan, wahyu keseimbangan, dan kemaslahatan kemanusiaan.

“Prinsip jalan tengah Islam (wasathiyah), yang menjadikan umat Islam sebagaiumat tengahan (ummatan wasathan), menekankan prinsip keseimbangan, moderasi, toleransi, dan anti ekstrimitas,” ungkap Din.
Begitu pula Pancasila adalah ideologi jalan tengah. Posisi tengahan ini antara lain dijelaskan Din yaitu adanya nilai  keseimbangan antara orientasi ketuhanan dan kemanusiaan, dan keseimbangan pada orientasi kemanusiaan itu sendiri yaitu antara individualisme dan kolektifisme, yang bermuara pada pentingnya keadilan bagi semua.

Jalan tengah Pancasila, lebih lanjut menurut Din, menjelma pada paradigma politik yang menekankan permusyawatan untuk adanya kesepakatan, dan paradigma ekonomi yang tidak kapitalistik dan tidak sosialistik.

Menurut Din, wawasan jalan tengah ini sangat cocok untuk peradaban dunia yang rusak dewasa ini, lantaran terjebak ke dalam ekstrimisme.

“Sistem dunia selama ini sangat berwajah antroposentristik, yakni menjadikan manusia sebagaipusat kesadaran, dan kurang berwajah teosentristik yaitu menjadikan Tuhan sebagaipusat kesadaran,” tegas Din.

Sehingga akibatnya, peradaban manusia sepi dari nilai-nilai etika dan moral, yang pada giliran berikutnya menciptakan berbagai bentuk ketiadaan damai, seperti kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan hidup, dan berbagai bentuk kekerasan.

Maka, menurut Din, wawasan jalan tengah dapat menjadi solusi. “Perlu ada perubahan sistem dunia dan sistem-sistemturunannya ke arah yang berorientasi jalan tengah, yakni menekankan keseimbangan, keadilan, dan kemaslahatan kemanusiaan,” ungkap Din.

Dalam kaitan inilah, Din menawarkan prinsip jalan tengah dari Islam dan Pancasila sebagaiideologi baru dunia untuk adanya tatanan dunia baru yang berkemajuan, berkeadilan, dan berkeadaban.

Selama berada di Inggris, Din menyempatkan diri untuk beraudiensi dengan Sekjen Persekutuan Gereja-GerejaAnglican, Archbishop Josiah Atkins Idawu-Fearon di Keuskupan Cantenbury. Selain itu, sehari sebelumnya, sempat mengisi Sarasehan Mahasiswa Indonesia tentang Politik Ekonomi dan Deglobalisasi, danjugasilaturahimdengan masyarakat Indonesia di Inggris yang keduanya bertempat di KBRI London. (Muhammadiyah.or.id)


EmoticonEmoticon